Dulu, sekitar tahun 2016 sampai 2017, yang namanya fanfiction paling banter nongkrong di platform Wattpad. Tempat para penulis remaja menumpahkan imajinasinya ke idol western atau Korea. Tapi belakangan, semesta itu pindah rumah. Yang awalnya dari Wattpad jadi ke X (dulu disebutnya Twitter). Di sana, cerita imajinasi tersebut berkembang dalam bentuk โAlternative Universeโ alias AU. Cerita bersambung dalam cuitan-cuitan pendek di sebuah utas yang bisa bikin pembaca refresh timeline kayak nunggu drama Korea tayang episode baru.
Beberapa tahun belakangan ini, banyak kalangan Gen Z, terutama para K-poper, yang jadi pembaca setia AU. Apalagi AU yang pakai bias mereka, siap-siap aja masuk bookmark (markah) biar nggak ketinggalan update part terbaru.
Menembus Dunia Cetak
Fenomena fanfic ini sudah pernah dibahas sama Dafid Ibrahim dalam artikelnya di Tilas ID tahun 2025 yang berjudul โFenomena Pop: Antara Inovasi dan Kemandekan Kreativitasโ. Artikel itu menyoroti bagaimana Wattpad, X/Twitter, dan platform serupa melahirkan bentuk baru sastra populer.
Namun, belum banyak yang membahas bagaimana AU di X/Twitter, seperti Hello, Cello dan Hilmy Milan misalnya, berhasil menembus dunia cetak tanpa kehilangan jiwanya sebagai karya kolaboratif digital. Artikel ini ingin membedah tentang mengapa dua karya tadi bisa sepopuler itu, bagaimana peran media sosial dalam mengangkatnya, dan apa yang bisa dipelajari oleh para kreator sastra digital agar karyanya tak cuma viral sesaat, tapi juga berumur panjang di dunia sastra populer.
Dari Wattpad ke Utas: Revolusi Interaktivitas
Wattpad dulu adalah raja di dunia fanfiction. Di sana, pembaca bisa tenggelam dalam cerita dengan banyak bab penuh romansa mendayu-dayu. Tapi zaman berubah. Pembaca sekarang pengen yang cepat, interaktif, dan mudah dikomentari.
Di sinilah letak kejeniusan X/Twitter. Dengan keterbatasan 280 karakternya, platform ini memaksa narasi menjadi lebih ringkas. Umumnya cerita AU disampaikan menggunakan fitur media berupa fake chat atau semacamnya yang berlanjut dalam sebuah thread (utas). Kebutuhan akan interaktivitas dan kecepatan inilah alasan utama mengapa AU begitu digemari. Siapa yang ngga tertarik coba, apalagi AU biasanya diselipi gambar fanart dan kreativitas lain dari sang penulis?
BACA JUGA: Merawat Ingatan Lewat Sinema: Ekranisasi Bumi Manusia
AU seperti Hello, Cello dan Hilmy Milan hidup dari interaksi ini. Pembaca bisa ngetik โAAA CELLOOOโ di kolom balasan, ikut baper, bahkan ngirim meme yang lucu-lucu buat jadi reaction. Di titik itu, karya bukan lagi milik penulis, tapi hasil kolaborasi emosional antara kreator dan penggemar.
Kalau di Wattpad pembaca jadi penonton pasif (mungkin sekadar ngasih komentar atau vote), di X/Twitter mereka jadi penonton sekaligus penggerak cerita. Popularitas AU lahir dari โreal-time engagementโ.
Resep Sukses: “Rasa” Hello, Cello dan Hilmy Milan
Hello, Cello dan Hilmy Milan jadi dua AU yang naik kelas bukan hanya karena mereka paling ribut atau paling heboh di timeline, tapi karena keduanya punya โrasaโ yang susah ditiru. Ceritanya ditata pelan-pelan, manis tapi ngena, dan ditulis dengan gaya yang bikin pembaca merasa sedang baca curhatan temen sendiri.
Setiap potongan ceritanya pendek, ringan, dan selalu muncul di waktu yang pas. Akhirnya pembaca ikut ketagihan, nunggu update sambil buka aplikasi berkali-kali kayak orang nunggu chat balasan dari gebetan. Penulisnya juga sigap merespons, bikin suasana seolah pembaca diajak duduk bareng di meja yang sama.
Banyak AU lain yang viral cuma semalam, tapi dua karya ini berhasil bikin ikatan yang tahan lama karena tokohnya terasa hidup dan ceritanya dekat dengan pengalaman sehari-hari. Waktu dibukukan, modal emosional itu sudah sangat besar, jadi pembacanya ikut pindah dari layar ke halaman kertas.
Meski begitu, proses pindah rumah ini nggak sepenuhnya mulus. Pemindahan cerita dari format utas ke buku juga memperlihatkan tantangannya sendiri. Misalnya, bagian-bagian pendek atau unsur fake chat yang awalnya terasa cepat dan seru di timeline bisa terasa melambat dan repetitif dalam bentuk novel utuh.
Viral Bukan Berarti Visioner
Perpindahan dunia fanfiction ini menunjukkan perubahan cara generasi muda berinteraksi dengan cerita modern. Pembaca tak hanya mencari hiburan, tapi juga pengalaman bersama yang bisa dibagikan. Interaksi lewat komentar, ruang obrolan, sampai fanart menciptakan ekosistem kreatif yang saling mendukung.
Tapi bukan berarti tanpa cela. Seperti yang dibahas Dafid Ibrahim, budaya digital sekarang kadang bikin kreativitas jalan di tempat. Banyak cerita yang viral bukan karena paling inovatif, tapi karena pas aja sama selera pasar yang sedang heboh. Ada AU yang cuma menempelkan nama idol ke template cerita yang itu-itu lagi, lalu berharap algoritma bekerja.
Begitu pindah ke buku atau layar, beberapa cerita jadi terasa kurang matang karena sejak awal memang dirancang untuk konsumsi cepat, bukan untuk dibaca pelan sambil merenung. Ini kelihatan banget di beberapa adaptasi AU dan utas viral yang akhirnya jadi film tapi ceritanya terasa seperti catatan tugas kelompok yang dipanjangkan: banyak sensasi, sedikit pendalaman.
Interaktivitas media sosial memang bikin pembaca merasa dekat, tapi kedekatan itu kadang membuat kualitas narasi justru tenggelam di antara komentar dan permintaan โnext part, Kak!โ. Jadi, sambil menikmati euforia AU, kita juga perlu sadar bahwa viral bukan selalu berarti visioner.
Evolusi Sastra Populer
Fenomena Hello, Cello dan Hilmy Milan menunjukkan bahwa sastra populer kini tak lagi terbatas di halaman buku. Fenomena “cuitan jadi cetakan” adalah bukti adaptasi format yang sukses. X/Twitter adalah mesin promosi dan validasi pasar yang nyaris tanpa biaya; setiap retweet adalah promosi gratis yang memindahkan popularitas digital ke pasar buku fisik.
AU tersebut merupakan bukti ketertarikan pengguna media sosial yang bisa menjembatani karya sastra dari media digital dengan media cetak. Di masa depan, bukan mustahil jika bentuk-bentuk baru sastra muncul dari media sosial lain, mulai dari TikTok, Threads, atau platform yang bahkan belum ada eksistensinya.
Yang jelas, sastra populer Indonesia sedang berada di era paling cair, di mana siapa pun bisa jadi pengarang, dan setiap cuitan berpotensi jadi cerita cinta.








Tinggalkan Balasan