Memasuki gerbang perguruan tinggi ternama adalah puncak kebanggaan bagi setiap siswa, sebuah pencapaian yang terasa seperti awal dari kehidupan yang lebih gemilang. Namun, sering kali kebanggaan itu berubah menjadi mimpi buruk saat label mahasiswa mulai diemban. Sebelum kita membahas lebih jauh sisi gelap psikologis mahasiswa, ada baiknya kita merefleksikan kembali kehidupan yang kita dambakan itu, persis seperti saat pertama kali kita menginjakkan kaki di kampus.
Masa Ospek menjadi momen perkenalan awal yang dipenuhi euforia, mirip dopamine yang mengalirkan semangat dalam setiap langkah kita menuju kehidupan yang lebih cerah. Di fase ini, senior-senior terlihat sangat peduli, seolah-olah mereka tulus ingin membantu. Tapi benarkah begitu? Atau ada niat lain di balik kebaikan mereka? Mungkin kalian sudah tahu, karena ini adalah rahasia umum. Para maba harap Hati-hati!
Perangkap Manis Para Senior
Motif senior mendekati mahasiswa baru (maba) sangat bervariasi kok. Ada yang mendekat karena maba punya paras menarik (good looking), ada yang karena pintar, dan jika kedua hal itu digabungkan tentu potensi besar, tapi maba jangan dulu merasa senang. Sejatinya, kalian tidak benar-benar diperhatikan atau diberi panggung. Kalian hanyalah target selanjutnya yang mereka sebut kaderisasi mungkin.
Tapi tenang tidak sepenunhya tentang fisik dan kepintaran, jika maba tidak memiliki kedua hal tersebut, selama mereka dianggap berpotensi, mereka tetap akan dibimbing. Kakak-kakak yang berkamuflase sebagai pembimbing ini akan selalu ada di sampingmu selama beberapa bulan ke depan, menanyakan kabar, target, dan kebingunganmu. Mereka menciptakan ilusi bahwa kamu adalah prioritas dan penting padahal tidak juga.
Di minggu pertama, kamu mungkin merasa nyaman dan bangga karena dipilih oleh senior untuk membicarakan isu negara yang gonjang-ganjing atau konspirasi global. Tidak peduli obrolan itu mengawang-awang hingga larut malam, yang penting kamu merasa punya panggung. Pesan untuk maba, hati-hati saja. Jangan terlalu senang mendapat privilege sejak awal, karena itu adalah jebakan yang terstruktur.
Memasuki minggu kedua, mereka akan mulai membicarakan slogan “Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu.” Slogan ini sebenarnya tidak salah, tapi kelanjutan dari topik inilah yang berbahaya. Mereka tidak memberikan pilihan berbagai organisasi, melainkan langsung berkampanye untuk kelompok mereka sendiri. Mahasiswa baru yang lugu tentu merasa senang diarahkan begitu, tanpa sedikit pun curiga bahwa itu adalah bagian dari tugas kaderisasi yang diberikan oleh atasan mereka.
Kehidupan kampus, sebenarnya, tidak semenyenangkan itu. Sejak menjadi maba, kita sudah dihadapkan pada situasi yang tanpa disadari adalah replika dari kehidupan kampus yang sebenarnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa, tapi juga ranah dosen, meskipun tidak semuanya demikian.
Dosen pun Tak Luput dari โKenakalanโ
Nantinya, kamu juga akan menemukan masa-masa di mana kamu diajak dosen untuk ikut penelitian. Sebagai mahasiswa baru, tentu ini terasa keren di mata teman sekelas. Kamu merasa mendapat impresi lebih dari dosen. Namun, pada kenyataannya, kamu tidak lebih dari sampel objek penelitian. Tentu kamu dapat pengalaman, tapi jangan lupa kamu juga mendapatkan hikmah pahit.
BACA JUGA: Dilema Anak Soshum,Saat Passion Dianggap Tak Menghasilkan!
Sejatinya, kamu hanya menjadi pembantu untuk melanggengkan proyek penelitian LP2M atau menaikkan sitasi KUM. Tujuannya agar uang proposal yang cair tidak terlalu banyak keluar untuk biaya operasional. Dosen memilih partner yang pintar dan lugu, seperti dirimu. Tapi ini bukan tanpa pelajaran. Kamu bisa belajar tentang replika kehidupan yang lebih besar di luar kampus, bagaimana dunia ini bekerja. Kamu juga akan belajar untuk berpikir negatif, mencurigai motif di balik sebuah penawaran sebuah skill yang sangat diperlukan.
Pada akhirnya, kamu akan belajar dan tumbuh. Tulisan ini dibuat bukan untuk melarangmu atau mematahkan semangatmu, melainkan sebagai sebuah disclaimer yang tidak akan pernah disampaikan oleh dosen, senior, atau teman terdekatmu. Saat kamu tahu dan sadar akan realitas ini, beri tahu teman-temanmu. Belajarlah skill selamat untuk menempuh hidup baru di perguruan tinggi yang kalian cintai. Mungkin cukup sampai disini dulu, kita akan lanjutkan part berikutnya.
Tinggalkan Balasan