Filologi merupakan bidang ilmu yang memiliki sedikit peminat karena kajian tersebut terlalu tekstual sehingga membuat orangย awam berfikir jika bidang tersebut tidak menarik, tidak seksis, bahkan tidak populer.โ Kalimat tersebut kurang lebih yang diambil dari pendahuluan dari buku Karya Prof Oman Fathurrahman. Kenyataan nya pada masa kini, para akademisi di indonesiaย enggan untuk mengkaji manuskrip sebagai gerbang wawasan untuk jembatan terhadap kajian keilmuan yang lain khusus nya di bidang Humaniora. Lalu Apakah warisan intelektual leluhur akan terus terabaikan hanya karena dianggap tidak populer?
Setidaknya kajian teks-teks kuno sebagai refrensi tambahan untuk mengetahui suatu kebudayaan yang memungkinkan relevan dengan kehidupan pada zaman ini. Penting sekali untuk diketahuiย jika para pendahulu atau leluhur telah memberikan solusi masa kini, akan tetapi generasi saat ini tidak mengetahui hal tersebut.
ย karya Profesor Oman Fathurrohman Filologi Indonesia: Teori dan Metode memiliki beberapa bab pembahasan secara spesifik mengenai Filologi secara Umum, Perkembangan terhadap naskah dan ilmu filologi, Teori metode serta alur penelitian, Kodikologi dan Paleografi pada bab ke-enam kemudian bab terakhir mengenai cara untuk katalogisasi dan Digitalisasi Naskah Indonesia. Bab-bab diatas lebih dari cukup untuk mengetahui dasar dalam memahami ilmu filologi.
Meski kerap dipandang seagai bidang yang sempit, pada kenyataan nya filologi menyimpan potensi besar yang melampui sekadar teks kuno, memberikan gambaran bahwa dunia filologi sangat luas dan mempunyai peluang untuk dikaji lebih spesifik,ย sehingga kedepan nya filologi dapat memberikan sumbangsih bagi setiap bidang keilmuan yang linear.
ย Pada dasarnya filologi secara sederhana merupakan suatu bidang ilmu mengkaji sejarah, kebudayaan, dan kesusastraan melalui suntingan teks. Akan tetapi jauh lebih dalam lagi terkait definisi filologi diambil dari bahasa latinย dari dua kata Philos yang berarti โkataโdan logos yang memiliki makna โCinta.โ Jika dihubungkan memiliki makna cinta terhadap kata-kata.
analogisnya makna tersebut relevan dengan fokus kajian filologi, terhadap manuskrip baik dari segi teks, naskah, dan isi teks. Para akademisi yang menggeluti bidang filologi, mendeskripsikan hasil dari penelitian nya bahwa satu naskah dapat menghasilkan suatu ilmu yang beragam. Tujuannya agar naskah yang beredar mempunyai suatu fungsi bagi kehidupan masyarakat.
BACA JUGA: Membunyikan yang Sunyi Melalui Naskah Kuno di Kabupaten Trenggalek
Seperti Babad tanah Jawi sebagai sejarah masyarakat jawa, Syair Bayan Budiman dengan isi teks tentang ilmu yang memuat fiqh bagi pedoman orang islam, dan terakhir Manuskrip Qanโun Al-Tib karya ibnu Sina membahas mengenai ilmu kedokteran. Lantas dimana letak kerja filologi yang telah di contoh kan di atas?
Jika menisbatkan pada buku profesor Oman fathurrohman. kerja filolog terletak pada hubungan manusia dengan naskah tersebut. letak kajian filologi sebagai solusi utama untuk mengetahui kebudayaan terdahulu melalui tulisan-tulisan kuno nya. Manusia dengan memiliki kesadaran terhadap peninggalan kebudayaan seharusnya melestarikan peningggalan-peninggalan terutama yang berkaitan dengan tulisan para leluhur, serta hubungan tersebut dapat memberitakan terhadap produk kebudayaan yang terkandung dalam manuskrip.
Naskah yang tersebar luas di masyarakat tanpa adanya edukasi, memiliki peluang yang berdampak terhadap rusak nya manuskrip. Manuskrip tersebut kemungkinan memiliki isi teks yang memuat keilmuan dan tentu dapat berguna bagi masyarakat. Pada sisi lain masyarakat melihat manuskrip sebagai benda yang sangat disakralkan, tak ayal masyarakat setempat melakuakan tradisi atau sebuah ritual untuk menghormati peninggalan leluhur.
Seperti kitab israโ miraj di Banyuwangi di buka pada event tertentu pada tanggal 27 Rajab. Perlakuan tersebut menggambarkan agar kitab tersebut dapat terjaga dari segi fisik meminimalisir kerusakan yang tidak diinginkan.
Sikap tersebut dapat memudahkan para peneliti untuk mengakses naskah tersebut untuk menjadi katalaog tambahan supaya manuskrip di indonesia dapat di ketahui oleh khalayak umum. Kemudian mengumpulkan naskah yang di dapatkan tidak berhenti di situ perlu adanya proses untuk metadata naskah. Naskah biasanya memiliki salinan (Arketif) dari pengarang pertama (autograf) dengan tema yang sama. adanya data tersebut dapat membandingkan isi teks pada manuskrip dengan manuskrip lain nya. Proses ini agar hasil dari naskah tersebut dapat menceritakan berbagai pengalaman sesuai dengan pengarang asli nya.
Perkembangan ilmu filologi yang telah di jelaskan. Pada buku profesor Oman telah dilakukan ketika naskah kuno yang di temukan berbentuk rolls atau gulungan. berisi pengetahuan dari Yunani dan latin kuno.
penyuntingan teks tersebut dilakukan pada zaman renaisans ketika ilmu pengetahuan dan agama di pisahkan. Kemudian perkembangan filologi mulai di Nusantara sekitar abad ke 19 ketika ย peneliti orang as memulai kritiks teks jawa oleh Willem van der Molen, sebagai permintaan dari Direksi Bataviaasch Genootschap van Kuntsen en Wetenschappen untuk menerbitkan sebuah teks jawa. ketika mulai memasuki tahap perkembangan pada era 2000-an mulai terlihat ketika ada katalogisasi manuskrip dari Dreamsea ekerja sama dengan Perpusnas.
Intinya dari urauian review beserta opini tersebut menunjukkan bahwa filologi merupakan suatu khazanah keilmuan sebagai salah satu upaaya untuk melindungi teks-teks kuno. Tujuan tersebut tidak lain hanya sebagai media preservasi bahasa tulis dengan keberagaman ilmu pada manuskrip.
Tinggalkan Balasan