Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Desa Badean Tempo Dulu: Potret Sejarah, Alam, dan Perkebunan yang Membentuk Identitasnya

Avatar Fadlal Khairy Ibrahim

Batu Lumpang di area wisata Puncak Pakel Jember

Desa Badean di Kabupaten Jember, Jawa Timur, bukanlah sekadar sebuah desa kecil di lereng selatan Gunung Argopuro. Desa ini memegang peranan penting dalam sejarah sosial dan ekonomi kawasan tersebut yang berakar sejak masa kolonial Belanda. Letaknya yang subur dengan curah hujan tahunan antara 1.500โ€“2.000 mm menjadikannya lahan ideal untuk pertanian dan perkebunan komoditas ekspor seperti karet dan kopi.

Desa Badean secara resmi sudah tercatat dalam peta Belanda sejak tahun 1887, dan nama โ€œBadeanโ€ atau varian โ€œBadejanโ€ bahkan muncul dalam catatan administratif kolonial sebagai bagian dari usaha perkebunan besar bernama NV Cultuur Maatschappij โ€œDjemberโ€.

. Pabrik Widodaren

Perkebunan Widodaren di Dusun Widodaren merupakan salah satu bukti penting dari masa tersebut. Dikenal pada masa kolonial sebagai Binatangan/Widodaren, perkebunan ini mengelola tanaman karet dan kopi yang berkontribusi besar terhadap ekonomi lokal dan ekspor. Sistem perkebunan ini muncul pada era tanam paksa dan liberalisasi setelah 1870, kala banyak modal asing masuk mendirikan perkebunan di wilayah subur selatan Gunung Argopuro. Keberadaan perkebunan ini tidak hanya mengubah lanskap alam, tetapi juga menggerakkan arus modal, teknologi, dan tenaga kerja dari berbagai daerah, sehingga membentuk dinamika sosial yang kompleks di Desa Badean dan sekitarnya.

Area rumah Karyawan Perkebunan Widodaren

Lebih dari sekadar wilayah pertanian, Desa Badean menyimpan kekayaan budaya dan sejarah yang bernilai tinggi. Beberapa temuan arkeologis tersebar di desa ini, termasuk batu lumpang, batu kenong, serpihan gerabah, pecahan batu bata merah, dan koin Cina yang mengindikasikan adanya jejak peradaban kuno di kawasan ini. Penemuan tersebut memberi gambaran bahwa Desa Badean sudah menjadi pemukiman maju pada masa pra-kolonial. Tidak hanya itu, ditemukan pula punden berundak serta susunan batu seperti lantai di kawasan perkebunan durian yang menambah kuat dugaan bahwa Desa Badean merupakan tempat dengan peradaban dan struktur sosial yang mapan sejak zaman dahulu.

Temuan arkeologis ini memiliki keterkaitan yang erat dengan situs lain di sekitar Gunung Argopuro, seperti petirtaan Dewi Rengganis sebuah struktur bangunan kuno yang diyakini sebagai tempat suci atau pemandian spiritual pada masa klasik Jawa. Keberadaan struktur petirtaan tersebut mendukung spekulasi bahwa di sekitar Gunung Argopuro memang terdapat banyak bangunan kuno yang merupakan peninggalan budaya agama dan sosial masyarakat terdahulu. Hal ini memperkuat asumsi bahwa wilayah ini bukanlah lokasi terpencil biasa, melainkan kawasan dengan nilai historis dan spiritual yang tinggi.

Beberapa temuan di Desa Badean

Jika menilik perjalanan sosial budaya Desa Badean dari masa ke masa, terlihat jelas bahwa desa ini tidak pernah statis. Pada masa kolonial, selain berperan sebagai pusat perkebunan, Desa Badean juga menjadi tempat bermukim para petani yang mengandalkan hasil kebun karet dan kopi sebagai sumber penghidupan utama. Interaksi sosial dan budaya mereka sangat erat, dibangun atas ikatan kekerabatan dan gotong royong yang kuat. Bahkan di masa modern pun, nilai-nilai ini tetap lestari dan menjadi pilar utama dalam kehidupan masyarakat.

Kekayaan alam desa ini juga turut mendukung berkembangnya pariwisata, seperti yang dapat disaksikan pada Puncak Pakel di Karang Pakel yang kini menjadi destinasi wisata alam jarak dekat dari pusat kota Jember. Tidak hanya panorama yang menyejukkan, kawasan ini juga menjadi simbol bagaimana Desa Badean mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan pengembangan ekonomi berbasis desa.

Dari sisi sejarah kolonial, Desa Badean adalah cermin kecil dari perubahan besar yang terjadi di Jawa Timur dan Indonesia secara umum. Kedatangan sistem tanam paksa dan kemudian era perkebunan liberal membawa perubahan signifikan terhadap cara hidup masyarakat asli, yang terintegrasi dengan berbagai tenaga kerja dan modal asing. Namun, tradisi dan nilai budaya lokal tetap bertahan, membentuk sebuah identitas sosial yang unik dan kuat bahkan sampai masa kini.

Memahami Desa Badean tempo dulu membuka wawasan tentang bagaimana sebuah desa yang tampak sederhana menyimpan lapisan-lapisan sejarah dan budaya yang kaya dan kompleks. Dari peninggalan arkeologisnya yang menunjukkan tingkat peradaban kuno, hingga perannya sebagai pusat perkebunan strategis pada masa kolonial, dan kini berkembang menjadi destinasi wisata yang menjanjikan, Desa Badean adalah contoh nyata proses transformasi sosial-ekonomi yang berakar kuat pada tanah dan sejarahnya.

BACA JUGA: Desa Badean Jember: Dari Kajian sejarah ke Destinasi Wisata

Lebih jauh lagi, keberadaan temuan bangunan kuno dan struktur seperti punden berundak dan petirtaan di sekitar Gunung Argopuro bukan hanya menjadi objek penelitian arkeologis, tetapi juga menjadi simbol spiritual dan identitas budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Desa Badean mengajarkan kita bahwa masa lalu dan masa kini bisa berjalan bersama, dan kekayaan alam serta warisan budaya yang ada harus menjadi pondasi untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Melalui pelestarian sejarah dan budaya, pengembangan sektor wisata, dan perbaikan kualitas hidup masyarakat yang mengakar pada kearifan lokal, Desa Badean dapat terus maju tanpa menghapus jejak masa lalunya yang sangat berharga. Desa ini bukan sekadar titik di peta, melainkan entitas hidup yang menyimpan cerita panjang tentang keberagaman budaya, perjuangan sosial, dan harmoni antara manusia dan alam. Kisah Desa Badean menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan ini dengan bijak.

Namun, banyak pertanyaan menarik yang masih terbuka terkait Desa Badean. Bagaimana sebenarnya kehidupan masyarakat desa ini sebelum masa kolonial? Apa fungsi dan makna sebenarnya dari punden berundak serta struktur bangunan kuno yang ditemukan di sana? Sejauh mana hubungan Desa Badean dengan situs purbakala lainnya di lereng Gunung Argopuro? Dan bagaimana kita dapat mengoptimalkan potensi sejarah dan arkeologis desa ini untuk pengembangan budaya dan pariwisata berkelanjutan di masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak para peneliti, sejarawan, dan masyarakat luas untuk terus menggali dan memahami lebih dalam tentang desa yang kaya akan cerita ini. Kaya akan alam sekaligus sejarah, Desa Badean mengandung lapisan-lapisan misteri dan kekayaan budaya yang patut untuk terus dikaji dan dijaga bersama.

Avatar Fadlal Khairy Ibrahim

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter