Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Peran Vlogger Kuliner Dalam Membangun Identitas Kuliner Nusantara

Avatar Vita Natasya

Seorang vlogger kuliner antusias merekam dan mempromosikan kekayaan cita rasa masakan lokal Indonesia. (Foto: AI)

Seiring berjalannya waktu, dunia digital di Indonesia berkembang dengan sangat cepat. Sekarang, hampir semua hal bisa kita temukan hanya melalui layar gadget mulai dari tips gaya hidup sampai review makanan. Nah, di antara semua jenis konten itu, vlog kuliner termasuk yang paling disukai. Alasannya sederhana, siapa sih yang nggak suka makan dan nonton orang makan enak?

Tapi, ternyata vlog kuliner nggak cuma soal โ€œnyicip dan ngiler barengโ€. Lebih dari itu, para vlogger kuliner punya peran penting dalam membangun citra dan identitas kuliner Nusantara di dunia maya bahkan sampai ke kancah internasional. Kalau dulu orang cuma tahu makanan khas Indonesia dari acara televisi atau festival kuliner, sekarang cukup buka YouTube, TikTok, atau Instagram, kita bisa langsung melihat ragam kuliner dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari rawon, papeda, sate lilit, sampai kue rangi semuanya bisa tampil keren dan menggugah selera berkat kreativitas para vlogger.

Mereka tidak hanya menampilkan makanan, tapi juga cerita, suasana, dan nilai budaya di balik setiap sajian. Dalam satu video sederhana, bisa terselip pesan tentang kearifan lokal, tradisi memasak, bahkan filosofi hidup orang Indonesia. Beberapa penelitian juga sempat menyoroti fenomena ini. Misalnya, studi oleh Egi Sokia Kiagun (2023) yang menunjukkan bahwa konten Farida Nurhan punya pengaruh besar terhadap meningkatnya minat wisata kuliner masyarakat. Sementara itu, penelitian lain dari Marcia Febriyani (2025) membahas pentingnya etika komunikasi dalam menyampaikan ulasan supaya nggak menjelekkan pelaku usaha. Jadi, dari dua sisi itu, kelihatan banget bahwa vlogger kuliner punya peran ganda: sebagai promotor budaya dan sebagai pihak yang perlu bertanggung jawab atas dampak kontennya.

Daya Tarik “Makan Bareng” dan Dampak Ekonomi Digital

Kalau kamu sering nonton vlog kuliner, pasti sadar deh daya tarik utamanya bukan cuma makanannya, tapi juga cara bercerita sang vlogger. Mereka biasanya tampil dengan gaya santai, penuh humor, dan terasa akrab, seolah-olah sedang ngobrol dengan teman sendiri. Misalnya, saat mereka bilang:

Komentar spontan seperti itu bikin penonton merasa ikut makan bareng. Pengalaman real-time eating yang ditampilkan membuat vlog terasa hidup dan jujur. Selain itu, vlog kuliner juga dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanan adalah kebutuhan semua orang, jadi konten kuliner bisa menjangkau semua kalangan dari pelajar, pekerja, sampai ibu rumah tangga. Konten ini juga punya nilai edukatif seperti penonton bisa belajar tentang sejarah makanan, bahan-bahan lokal, bahkan cara penyajian yang khas di tiap daerah.

Di sisi lain, pelaku usaha kuliner juga diuntungkan. Banyak warung kecil atau UMKM yang mendadak viral karena diulas oleh vlogger terkenal. Bayangin, satu video bisa bikin tempat makan yang tadinya sepi jadi antre panjang setiap hari. Inilah kekuatan media digital yang sesungguhnya.

Peran media sosial jelas nggak bisa dilepaskan dari perkembangan fenomena ini. YouTube menyediakan ruang untuk vlog berdurasi panjang dengan pembahasan yang lebih dalam, sementara TikTok dan Instagram cocok untuk video pendek yang cepat viral. Selain sebagai platform berbagi, media sosial juga membuka peluang kolaborasi. Misalnya, restoran bisa menggandeng vlogger untuk promosi menu baru, atau vlogger bekerja sama dengan brand lokal buat memperkenalkan produk khas daerah. Kolaborasi seperti ini bukan cuma menguntungkan secara bisnis, tapi juga ikut memperluas jangkauan budaya kuliner Indonesia.

Sisi Negatif: Antara Ulasan Jujur dan “Bencana” Viral

Fenomena vlogger kuliner juga memiliki sisi negatif yang perlu diperhatikan, terutama bagi pelaku usaha kecil. Ulasan buruk dari vlogger yang berpengaruh dapat langsung menjatuhkan reputasi sebuah tempat makan karena banyak orang kini lebih percaya konten digital daripada mencoba sendiri.

Bahkan viral yang terlihat positif pun bisa menjadi masalah ketika UMKM tiba-tiba dibanjiri pelanggan. Ini menyebabkan kualitas makanan menurun, pelayanan berantakan, dan identitas rasa yang seharusnya menjadi ciri khas justru hilang karena pemilik terpaksa menyesuaikan produksi demi memenuhi permintaan yang melonjak.

Selain itu, isu endorsement memunculkan dilema baru terkait kejujuran dalam ulasan. Ketika vlogger dibayar untuk mengulas suatu produk atau tempat makan, penonton sering meragukan apakah review tersebut benar-benar objektif atau sekadar promosi berbayar yang dibungkus menarik.

Demi menjaga kepercayaan publik, vlogger perlu bersikap transparan dengan mengatakan bahwa konten mereka merupakan kerja sama, serta tetap memberi penilaian yang jujur dan seimbang. Kejujuran ini penting agar rekomendasi yang diberikan tidak merugikan penonton maupun pemilik usaha, sekaligus menjaga agar integritas vlogger tetap terjaga di tengah persaingan konten digital yang semakin ketat.

Penjaga Identitas di Era Digital

Kalau dilihat dari sisi yang lebih luas, kehadiran vlogger kuliner sebenarnya sedang mengubah cara masyarakat memandang kuliner. Dulu, makan hanya dianggap sebagai kegiatan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan. Sekarang, makan juga menjadi pengalaman budaya dan identitas.

BACA JUGA: Dari Meja Makan ke Budaya Massa: Transformasi Kuliner di Era Media Sosial

Vlogger kuliner menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, mengemas nilai-nilai lokal dengan cara yang menarik dan mudah diterima oleh generasi digital. Lewat video, mereka membawa cita rasa Nusantara menembus batas layar dan menjangkau hati jutaan penonton di seluruh dunia.

Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa vlog kuliner punya potensi besar untuk mendukung ekonomi kreatif. Banyak UMKM yang terbantu dari promosi gratis, pariwisata kuliner jadi meningkat, dan masyarakat makin sadar pentingnya menjaga warisan kuliner lokal. Di masa depan, arah vlog kuliner kemungkinan akan semakin profesional bukan cuma menonjolkan rasa, tapi juga cerita di balik masakan, nilai-nilai ekologis, dan keberlanjutan bahan pangan.

Pada akhirnya, vlogger kuliner bisa disebut sebagai โ€œpenjelajah rasaโ€ yang membawa semangat cinta tanah air lewat makanan. Mereka bukan sekadar pencicip makanan, tapi juga penjaga identitas budaya Indonesia di era digital. Setiap video mereka adalah bentuk apresiasi terhadap keberagaman rasa dan tradisi. Dan siapa tahu, lewat satu gigitan rendang, sepiring soto, atau secangkir kopi lokal, penonton di luar sana jadi ingin datang ke Indonesia bukan hanya untuk berwisata, tapi juga untuk merasakan sendiri hangatnya budaya kita.

Karena pada dasarnya, di balik setiap rasa yang tersaji, selalu ada cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana cara kita menjaga warisan yang lezat ini agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Avatar Vita Natasya

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter