Pernahkah kalian mengekspresikan perasaan lewat media sosial? Sering kali, media sosial menjadi wadah bagi banyak orang untuk bersosialisasi, berinteraksi, hingga menuangkan perasaan. Salah satu bentuk ekspresi yang kini populer adalah publikasi karya fiksi yang dikenal sebagai Alternate Universe (AU).
Alternate Universe (AU) merupakan kumpulan cerita fiksi di media sosial yang umumnya ditulis oleh penggemar idol K-pop, di mana sang idola dijadikan visualisasi tokoh dalam cerita tersebut. Awalnya, AU banyak dipublikasikan di X (sebelumnya Twitter). Namun, kini platform lain seperti Instagram dan TikTok juga menjadi wadah populer untuk mempublikasikan karya ini.
Popularitas AU melonjak drastis seiring dengan bertambahnya jumlah penggemar K-Pop. AU menjadi ruang bagi para pengarang untuk menyalurkan kreativitas tanpa batas di dunia digital, sekaligus menjadi sarana literasi baru bagi pembaca. Kreativitas tersebut dituangkan dalam berbagai format, mulai dari pesan teks (chat) antar-idol, suntingan video seolah-olah para idol sedang berinteraksi, hingga ilustrasi visual yang terkadang dibukukan. Fleksibilitas dan kreativitas inilah yang menjadi alasan mengapa fenomena AU begitu marak di X, Instagram, hingga TikTok saat ini.
Kunci kepopuleran AU di media sosial terletak pada kemampuannya menjangkau audiens luas dalam waktu singkat. Unggahan AU biasanya mengikuti tren terbaru, mengangkat isu yang sedang ramai, serta bersifat menghibur, terutama bagi penggemar K-Pop. Fitur-fitur seperti tagar (hashtag), utas (thread), reels, kolaborasi, musik latar, dan dukungan algoritma turut mempercepat penyebaran konten. Hal ini mendorong para pengarang AU memilih ketiga platform tersebut sebagai tempat strategis untuk memamerkan dan mempromosikan karya mereka.
Interaksi antara penggemar dan pengarang juga menciptakan komunitas yang saling mendukung, baik untuk berdiskusi maupun berbagi karya. Setiap platform memiliki karakteristik unik yang dimanfaatkan oleh pengarang. Di TikTok, akun seperti @sayawynaaaa dengan karyanya 3276 MDPL menarik banyak peminat berkat penyajian cerita yang segar lewat konten video pendek. Dukungan algoritma TikTok memungkinkan karya tersebut viral dengan cepat.
Berbeda dengan TikTok yang berbasis video, AU di X populer berkat sistem thread (utas) bersambung dan kekuatan tagar untuk jangkauan yang lebih luas. Salah satu contoh sukses adalah AU Azzamine karya @jupiww yang memaksimalkan fitur-fitur tersebut. Sementara itu, Instagram memiliki keunggulan lewat fitur Saluran Siaran (Broadcast Channel) yang memungkinkan interaksi langsung antara penulis dan pembaca. Visualisasi feed, Reels, dan Instagram Story juga mempermudah pembaca memilih bagian cerita yang ingin dinikmati. Contoh sukses pemanfaatan fitur ini dapat dilihat pada akun @helloimwindii_ dengan karyanya #AFTER6PM!. Melalui strategi ini, pengarang dapat membangun popularitas karya secara jangka panjang.
Selain membahas keunggulan platform, penting untuk melihat dua sisi mata uang dari fenomena AU. Salah satu keunggulan utamanya adalah kebebasan berimajinasi. Penulis dapat berinovasi lewat gabungan teks, gambar, video, dan screenshot percakapan yang membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak monoton. Format yang tidak terlalu naratif ini menjadi nilai tambah karena mengurangi kejenuhan pembaca, sekaligus berpotensi meningkatkan minat literasi kaum muda. Aksesibilitas digital yang mudah bisa dibaca kapan saja dan di mana saja serta potensi komersialisasi menjadi bentuk fisik (buku) adalah daya tarik tersendiri.
BACA JUGA: Cinta dalam Cuitan: Hello, Cello dan Hilmy Milan Sebagai Wajah Sastra Populer
Namun, di balik keunggulan tersebut, AU memiliki beberapa kelemahan. Penggunaan foto idol Korea secara masif tanpa izin berpotensi melanggar privasi dan hak cipta. Selain itu, visualisasi tokoh yang terlalu jelas justru dapat membatasi ruang imajinasi pembaca, yang pada akhirnya bisa berdampak pada kualitas literasi mendalam. Dari sisi konten, alur cerita yang sering kali klise dan mudah ditebak menjadi catatan tersendiri. Lebih jauh lagi,
ketiadaan kontrol ketat memungkinkan munculnya konten yang tidak pantas, seperti unsur seksualitas yang melibatkan visualisasi idol, yang dapat diakses bebas oleh anak di bawah umur. Ketergantungan berlebih pada konten digital semacam ini juga dapat menyita waktu produktif pembaca.
Penulis AU sejatinya memanfaatkan celah perubahan gaya membaca generasi sekarang. Meskipun media sosial mempermudah akses bacaan, perlu diingat bahwa membaca buku konvensional tetap memiliki esensi penting sebagai jendela dunia. Namun, melihat tren ke depan, fenomena AU diperkirakan akan terus tumbuh seiring perkembangan teknologi. Kehadiran AI dan fitur interaktif baru diprediksi akan memperkaya variasi konten.
Bagi banyak orang, khususnya penggemar K-Pop, AU bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari evolusi literasi digital yang menjembatani kreativitas, sosialisasi, dan edukasi. Oleh karena itu, para pengarang perlu memahami karakteristik tiap platform agar karyanya tetap relevan dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas di masa depan.








Tinggalkan Balasan