Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Wajah Lain Dari Drama China

Avatar Desi Mrgareta

fenomena drama China vertikal yang kian populer dinikmati lewat ponsel (Foto: Pribadi)

Isi beranda media sosial belakangan ini menjadi semakin beragam berkat kehadiran pendatang baru dalam lingkup serial drama. Sebelumnya, jika membahas mengenai drama, pikiran warganet akan tertuju pada drama Korea yang menduduki popularitas tertinggi di hati masyarakat Indonesia. Namun, fenomena kali ini berbeda, masyarakat disuguhkan oleh serial drama pendek produksi China yang menyebar cepat di media sosial. Bukti kepopuleran drama ini terlihat dari peminatnya yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang dewasa.

Banyaknya peminat drama pendek di Indonesia akhirnya membentuk komunitas online untuk membahas drama China pendek. Hobi baru ini tidak hanya digandrungi oleh perempuan; para lelaki di media sosial pun mengakui bahwa mereka telah menjadi bagian dari komunitas pecinta drama pendek di Indonesia.

Drama China pendek atau mikro sering pula disebut sebagai drama vertikal karena format penayangannya yang mengikuti rasio video media sosial. Ciri utama serial ini adalah durasi tiap episode yang singkat, hanya berkisar 1-5 menit, dan menggunakan dubbing sebagai sarana penyampaian pesan. Durasi yang singkat ini membuat penonton dapat menamatkan cerita hanya dalam sekali duduk.

Ciri lain dari serial drama ini adalah penggunaan clickbait sebagai pembuka yang membuat penonton tertarik akan isi cerita. Trik marketing yang digunakan dalam produksinya juga cukup menarik. Episode awal biasanya disebarluaskan secara gratis di media sosial seperti TikTok dan Facebook, lalu penonton akan diarahkan ke aplikasi berbayar seperti Melolo dan Stardust untuk mengakses episode selanjutnya. Berkat trik tersebut, banyak warganet seakan terhipnotis untuk berlangganan aplikasi demi bisa menamatkan tontonannya.

Fenomena ini tidak hanya memengaruhi perilaku menonton, tetapi juga membentuk persepsi baru di kalangan penonton Indonesia. Banyak masyarakat kemudian melabeli bahwa semua drama China memiliki penyajian yang sama, bahkan pikiran mereka langsung tertuju pada drama pendek saat mendengar tentang drama China.

Padahal, industri drama di China memiliki beberapa golongan, antara lain long drama, web drama, dan drama pendek. Long drama yang tayang di televisi China dan internasional memiliki durasi sekitar 45-60 menit, web drama yang hanya tayang di media online berdurasi 15-20 menit, sedangkan drama pendek yang diproduksi dengan tempo cepat hanya berdurasi 1-5 menit.

BACA JUGA: Fenomena Pop: Antara Inovasi dan Kemandekan Kreatifitas

Perbedaan paling menonjol antara long drama dan drama pendek terlihat dari segi eksekusinya. Drama pendek biasanya dibuat dalam waktu singkat untuk mengejar permintaan pasar, sehingga editing dan naskahnya cenderung seadanya. Berbeda dengan long drama yang proses produksinya memakan waktu bertahun-tahun, mulai dari casting, syuting, editing, proses penerbitan lisensi, hingga penayangan. Proses produksi ini juga membuat long drama membutuhkan dana yang jauh lebih besar daripada drama pendek atau vertikal.

Sebenarnya, China juga memproduksi long drama dengan plot, editing, bahkan akting yang dapat bersaing dengan drama dari negara lain seperti Korea dan Thailand. Beberapa judul long drama berkualitas tersebut antara lain Shining For The One Thing, Reset, The Glory, dan The Justice. Drama-drama ini memiliki alur cerita yang lebih menarik dengan berbagai genre seperti romance, action, kolosal, dan republikan. Namun sayangnya, kurangnya promosi terkait long drama membuat atensi warganet Indonesia masih terpaku pada drama pendek yang sering berkeliaran di media sosial, sehingga muncul asumsi bahwa seluruh drama China memiliki plot klise, akting kaku, dan hanya menonjolkan visual.

Perubahan selera masyarakat terhadap serial drama menjadi hal menarik untuk diperbincangkan. Sebelumnya, drama Korea digunakan sebagai patokan “layak tonton”, namun kini terjadi pergeseran selera ke penyajian drama yang seadanya. Tanpa sadar, masyarakat sebenarnya merasa bosan dengan bahasan yang terlalu berat seperti yang disajikan oleh drakor dan long drama.

Munculnya drama China pendek terasa seperti hal baru yang menyajikan plot sederhana dan mudah diterima untuk “lari sejenak” dari realitas sosial yang rumit. Plot populer belakangan ini sering berkisah tentang CEO tampan yang bertakdir dengan perempuan miskin, seperti dalam judul Istri Rahasia, Pengusaha Hati CEO Manja, atau Pernikahan Kontrak Sang CEO. Meski cerita tersebut terkesan mudah ditebak dan tidak masuk akal, banyak warganet mengakui bahwa mereka merasa geli namun juga seru di saat yang sama saat menontonnya. Selain itu, penggunaan dubbing juga membantu mereka yang sedang malas membaca subtitle namun tetap ingin mengetahui jalannya cerita.

Avatar Desi Mrgareta

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter