Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Twenty-Five Twenty-One: Menggebrak Kancah Internasional Melalui Sebuah Peran

Avatar Anisa Nur Fadilah

Twenty-Five Twenty-One (Foto: Admin)

Perbincangan tentang tren yang sangat digandrungi di zaman sekarang tidak akan lepas dari Negeri Ginseng. Korea Selatan dengan ragam budayanya telah memikat berbagai kalangan di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Salah satu tren yang amat disukai adalah K-pop. Seni musik yang menjadi budaya paling khas dari negara tersebut mampu menarik perhatian dunia. Popularitasnya tidak sebatas memperkenalkan ciri khas musik Korea Selatan, tetapi juga para idola yang berkecimpung di baliknya. Lalu, bagaimana dengan tren lainnya? Tentu saja ada, yaitu drama Korea (drakor). Siapa yang tidak gemar menonton drakor?

Korea Selatan berhasil membuktikan kepada dunia bahwa drama bukan sekadar hiburan, melainkan strategi budaya yang efektif. Melalui produksi yang apik, cerita yang dekat dengan realitas manusia, serta dukungan industri musik dan media digital, mereka mampu menciptakan karya yang menembus lintas budaya. Salah satunya adalah drakor Twenty-Five Twenty-One, sebuah drama yang menggabungkan emosi, visual, dan nilai-nilai kehidupan dengan cara yang menyentuh penonton dari berbagai negara.

Kunci keberhasilan drakor ini terletak pada kemampuannya mengemas nilai lokal dengan sentuhan universal. Tema tentang perjuangan, cinta, dan kehilangan dirangkai dalam narasi yang lembut namun kuat, membuat siapa pun dapat merasakan kedekatan emosional dengan tokohnya. Selain itu, algoritma media sosial berperan besar dalam mempercepat penyebaran potongan adegan atau dialog yang menarik, sehingga dengan cepat menjadi viral dan menembus pasar global.

Faktor lain yang memperkuat daya tarik lintas budaya adalah musik K-pop yang digunakan sebagai pengiring suasana. Melodi dan liriknya memperdalam chemistry antartokoh, menciptakan ikatan emosional yang mudah diingat penonton. Kombinasi antara narasi yang kuat, visual sinematik, musik yang menyentuh, dan kekuatan algoritma menjadikan drakor seperti Twenty-Five Twenty-One tidak hanya populer, melainkan mampu menyatukan perasaan penonton dari berbagai belahan dunia.

โ€œMeskipun terlambat, selamat atas pernikahanmu, Nona Na Hee Do.โ€

Siapa yang tidak mengenal kalimat keramat itu? Kalimat ikonik dari Twenty-Five Twenty-One atau biasa disebut “2521” oleh warganet Indonesia sukses membanjiri algoritma media sosial dan menarik perhatian berbagai kalangan. Bahkan, seseorang bisa langsung teringat pada drama yang tayang tahun 2022 ini hanya dengan melihat angka yang dianggap โ€œkeramatโ€: 2, 5, 2, 1.

Perbincangan tak akan ada habisnya jika membahas drama yang diperankan Nam Joo-Hyuk dan Kim Tae-Ri ini. Mayoritas orang mengenal drakor 2521 dari algoritma yang menampilkan cuplikan tayangan dan takarir (subtitle) berisi kalimat keramat tersebut. Selain itu, ending yang terkesan sedih juga menjadi daya tarik tersendiri. Meski banyak yang mengenalnya lewat kalimat ikonik, tak jarang pula ditemui penggemar yang jatuh cinta karena alurnya yang apik, karakter tokoh yang memotivasi, serta kisahnya yang sangat relate dengan penikmatnya.

Na Hee-Do (Kim Tae-Ri), tokoh utama dengan latar belakang remaja SMA, sangat gemar bermain anggar. Impiannya untuk menjadi atlet anggar sempat hampir terhenti karena masalah di luar kendali. Krisis Moneter (IMF) 1998 menyebabkan kurangnya dana hingga klub anggar di sekolahnya terpaksa ditutup. Peristiwa itu pula yang hampir merenggut mimpinya menjadi saingan sang idola, Go Yu-Rim (Bona WJSN). Latar belakang keluarga yang berkecukupan pun tidak serta-merta memudahkan jalan Hee-Do dalam memperjuangkan impiannya. Perjuangan hidup Na Hee-Do ini terasa begitu dekat bagi para penikmat 2521.

Drakor dengan cerita seperti ini umumnya mampu menggaet banyak penggemar karena relevan dengan kenyataan, sehingga popularitasnya tak perlu diragukan lagi. Terlebih, akhir kisah cinta Baek Yi-Jin dan Na Hee-Do yang sangat ikonik. Kandasnya hubungan mereka karena masalah waktu (timing) dan prioritas antara karier Na Hee-Do sebagai atlet anggar dan Baek Yi-Jin sebagai reporter terasa sangat realistis.

Dilema memilih antara cinta atau karier adalah hal yang dialami banyak orang. Bukankah menyakitkan ketika hubungan yang terjalin lama, penuh tawa dan duka, harus berakhir begitu saja? Ditambah lagi, komunikasi yang kurang baik di antara keduanya turut mendukung realistisnya kisah dua sejoli ini. Alasan-alasan inilah yang membuat kisah mereka sangat relate bagi banyak orang, khususnya para penikmat 2521.

Faktor realisme inilah yang membuat popularitas Twenty-Five Twenty-One semakin meroket. Ceritanya memvalidasi emosi penikmatnya yang berasal dari berbagai bangsa, didukung pula oleh ketersediaan subtitle dalam berbagai bahasa yang memudahkan akses global.

Drakor 2521 sangat terkenal di semua kalangan. Bahkan, tren di media sosial sering kali dikaitkan dengan drama ini. Salah satu tren yang kerap muncul adalah ketika ada atlet anggar membuat konten video, kolom komentar mayoritas berisi larangan berpacaran dengan reporter agar tidak patah hati. Perspektif unik ini lahir dari “trauma” kolektif penikmat drakor 2521. Popularitas yang tak surut bahkan hingga tiga tahun setelah penayangannya membuat para pemerannya turut dikenang.

BACA JUGA: Euforia Fanatisme: Ketika Idol K-POP Asal Indonesia Menjadi Simbol Kebanggaan

Aktor dan aktris asal Negeri Ginseng ini tak hanya dikenal di negaranya, tetapi sudah melesat ke kancah internasional. Kim Tae-Ri, yang berhasil memerankan Na Hee-Do dengan luar biasa, mampu menggaet penggemar di seluruh penjuru dunia lintas budaya. Aktingnya benar-benar tiada tanding, belum lagi parasnya yang menawan.

Kesuksesan 2521 tak hanya menguntungkan kru produksi dan para aktor, tetapi juga negara asalnya. Drama ini mampu mengenalkan budaya Korea Selatan kepada khalayak luas. Para idola lintas budaya ini memperkenalkan industri hiburan Korea yang kini sangat berpengaruh di kancah internasional. Ketenaran drakor pun memunculkan sosok idola yang menjadi role model bagi penggemar global. Sejatinya, drama memuat banyak hal; tak sebatas cerita, tetapi juga pesan moral dan unsur budaya yang diselipkan di dalamnya. Tak ayal, budaya termasuk bahasa dan kebiasaan Korea Selatan kini dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dunia.

Drakor telah berkembang menjadi medium budaya global yang mampu menghubungkan emosi manusia lintas bangsa. Kisah-kisah yang disajikan bukan hanya menghibur, melainkan menampilkan karakter kompleks dan nilai kemanusiaan universal yang menciptakan keterikatan emosional. Popularitas drakor menumbuhkan idola baru yang diterima secara internasional bukan semata karena ketenaran, tetapi karena kedalaman karakter dan pesan moral yang disampaikan.

Melihat perkembangan ini, gelombang drakor diprediksi akan memasuki era kolaborasi lintas negara dan bahasa. Akan muncul lebih banyak aktor global Asia yang mampu menembus batas industri hiburan regional, seperti Kim Tae-Ri yang kini menjadi simbol kekuatan emosi dan keanggunan lintas budaya. Tren ini menandai pergeseran dunia hiburan global menjadi lebih inklusif terhadap ekspresi Asia, sekaligus membuka ruang bagi budaya lain untuk turut berkembang dan bersaing di kancah internasional.

Avatar Anisa Nur Fadilah

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter