Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Dominasi Manga Jepang dan Peluang Kebangkitan Komik Lokal

Avatar Barachel Joy Eksa

Si Juki merupakan karakter komik yang dibuat oleh Faza Ibnu Ubaidillah atau Faza Meonk (Sumber Foto: Otaku World)

Budaya populer dari Jepang kayaknya nggak pernah kehabisan tenaga buat memengaruhi dunia, termasuk Indonesia. Salah satu yang paling kuat dampaknya tentu aja adalah manga komik Jepang yang udah jadi bagian dari kehidupan banyak orang di sini. Dari anak SMP yang baca di handphone sampai orang dewasa yang nostalgia lewat koleksi lama, manga berhasil menembus lintas usia dan waktu.

Sekarang, manga nggak cuma bisa ditemukan di toko buku. Ia juga menjalar lewat platform digital dan adaptasi anime, bahkan sampai situs-situs terjemahan ilegal yang bertebaran di internet. Hal ini bikin pembaca Indonesia makin akrab dengan budaya Jepang entah lewat karakter Naruto yang pantang menyerah atau Doraemon yang selalu punya alat ajaib untuk setiap masalah.

Tapi di tengah derasnya arus budaya itu, muncul pertanyaan penting: apakah komik lokal masih punya ruang untuk berkembang?

Manga: Dari Jepang ke Seluruh Dunia

Popularitas manga di Indonesia sebenarnya udah berlangsung lama. Sejak awal 1990-an, penerbit seperti Elex Media Komputindo dan M&C mulai menerjemahkan manga terkenal seperti Dragon Ball, Slam Dunk, One Piece, dan Detective Conan. Bagi generasi 90-an, manga bukan cuma bacaan, tapi juga semacam jendela menuju dunia baru penuh imajinasi, gaya visual ekspresif, dan cerita yang menyentuh sisi emosional pembacanya.

Menurut laporan Statista (2023), nilai pasar manga global mencapai lebih dari 4,5 miliar dolar AS, dan Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat. Ini menjelaskan kenapa manga gampang banget masuk ke Indonesia: pasar pembacanya besar, distribusinya luas, dan industri Jepang punya sistem yang rapi dari penerbitan sampai promosi.

BACA JUGA: Dulu Ghibli Dibilang Wibu, Sekarang Jadi Estetik!

Bahkan di era digital sekarang, manga makin tak terbendung. Banyak platform legal seperti Manga Plus dan LINE Webtoon yang menyediakan versi resmi, sementara situs ilegal juga terus bermunculan. Menurut detik.com (2024), ada lebih dari 1.207 situs manga bajakan yang sudah diblokir di dunia. Tapi di sisi lain, situs ilegal tetap dicari karena aksesnya gratis dan cepat cerminan betapa kuatnya minat baca masyarakat, tapi juga lemahnya kesadaran terhadap hak cipta.

Komik Lokal: Masih Ada Ruang untuk Bangkit

Meski terlihat tenggelam di bawah bayangan manga Jepang, komik Indonesia sebenarnya punya peluang besar untuk bangkit. Bedanya, komik lokal masih mencari bentuk dan identitasnya sendiri. Di era digital, banyak komikus muda yang mulai menyalurkan karyanya lewat platform daring seperti Webtoon Indonesia, Ciayo Comics, atau Karyakarsa.

Contohnya, Faza Meonk dengan Si Juki berhasil membuktikan bahwa karakter komik lokal bisa menembus media lain: dari webcomic jadi film layar lebar, bahkan merchandise. Ada juga Sweta Kartika dengan Grey & Jingga atau Wanara, serta Nurfadli Mursyid lewat Tahilalats, yang sukses di Instagram dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Karya-karya ini menunjukkan bahwa kekuatan komik lokal bukan cuma di gambar, tapi di cerita yang dekat dengan realitas pembaca Indonesia tentang humor, keanehan hidup sehari-hari, atau kritik sosial yang dikemas ringan. Kalau komikus lokal terus menggali kekayaan budaya dan keseharian Indonesia, mereka bisa punya keunikan yang nggak bisa ditiru manga Jepang.

Masalah Klasik: Akses Ilegal dan Kesadaran Pembaca

Salah satu alasan kenapa manga tetap mendominasi adalah aksesnya yang luar biasa mudah. Situs-situs bajakan yang menyediakan ribuan judul gratis membuat banyak orang lebih memilih membaca tanpa bayar ketimbang berlangganan di platform resmi. Padahal, kondisi ini justru bikin industri lokal susah berkembang.

Menurut survei Indonesia Internet Users Behavior Report (We Are Social, 2024), lebih dari 85% pengguna internet di Indonesia mengonsumsi konten hiburan visual seperti komik dan animasi secara daring setiap minggu. Tapi dari jumlah itu, sebagian besar belum terbiasa dengan sistem langganan berbayar.

Kalau kebiasaan ini terus berlanjut, industri kreatif lokal akan kesulitan tumbuh karena tidak ada ekosistem ekonomi yang mendukung. Itu sebabnya, kesadaran pembaca menjadi kunci penting. Membaca secara legal, meskipun berbayar, sebenarnya adalah bentuk dukungan nyata terhadap pencipta karya. Pemerintah dan platform digital juga punya tanggung jawab untuk membuat akses legal lebih terjangkauโ€”misalnya dengan sistem langganan murah, promo pelajar, atau konten eksklusif lokal.

Komik di Era Algoritma: Dari Viral ke Vital

Kalau dulu komik dikenal lewat toko buku atau majalah, sekarang era algoritma media sosial punya peran besar dalam menentukan apa yang populer. Sebuah panel lucu dari Tahilalats atau potongan cerita Si Juki yang viral di TikTok bisa langsung mendatangkan jutaan pembaca baru dalam semalam.

Artinya, popularitas sekarang bukan cuma soal kualitas cerita, tapi juga kemampuan membaca ritme digital. Komikus yang peka terhadap tren dan tahu cara mengemas cerita sesuai logika algoritma punya peluang besar untuk bersinar.

Fenomena ini bisa jadi momentum emas bagi komikus Indonesia. Dengan gaya humor lokal, konteks sosial khas Nusantara, dan tema yang dekat dengan kehidupan anak muda (macet, kuliah, overthinking, kerja kantoran), komik lokal sebenarnya punya amunisi lengkap untuk bersaing. Kuncinya adalah keberanian untuk memadukan identitas budaya dengan strategi digital.

Menuju Identitas Baru Komik Indonesia

Dominasi manga Jepang di Indonesia jelas menunjukkan kekuatan budaya populer yang menembus batas geografis. Tapi bukan berarti komik Indonesia nggak punya tempat. Justru, di era globalisasi budaya ini, komik lokal punya kesempatan buat membangun identitas baru yang nggak sekadar meniru, tapi berdiri di atas fondasi budayanya sendiri.

Kita sudah lihat bibitnya lewat karya-karya seperti Si Juki, Tahilalats, atau Grey & Jingga. Mereka lahir dari keseharian masyarakat Indonesia, bukan dari bayangan Tokyo atau Shibuya. Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan berkelanjutan Pemerintah yang menyediakan ruang dan dana bagi kreator muda, platform digital yang mempermudah akses legal dan promosi karya lokal, pembaca yang sadar bahwa apresiasi terhadap karya dalam negeri juga bagian dari menjaga budaya sendiri.

Dengan kombinasi itu, bukan hal mustahil kalau beberapa tahun ke depan justru komik Indonesia yang akan mendominasi linimasa dan platform digital bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di pasar global. Pada akhirnya, baik manga maupun komik lokal sama-sama memperkaya dunia imajinasi kita. Tapi kalau manga sudah lama menemukan jati dirinya, sekarang giliran komik Indonesia untuk membangun jati dirinya sendiri: cerdas, lucu, hangat, dan tentu saja Indonesia banget.

Avatar Barachel Joy Eksa

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter