Dulu, kalo mau lari ya tinggal lari. Modal sepatu sekolah atau sepatu yang dah agak buluk, pake kaos seadanya pun jadi. Lari adalah kegiatan olahraga terjangkau, hanya perlu sepatu dan kemauan.
Sekarang? Karena pengaruh media sosial, lari berubah menjadi ajang adu outfit dan seberapa jauhnya lari dengan Strava. Apakah kita masih lari untuk kesehatan, atau hanya untuk gaya-gayaan? Harusnya, lintasan lari menjadi tempat untuk membakar kalori. Tapi udah berubah menjadi lintasan panggung show jalanan.
Dari Olahraga Rakyat ke Panggung Estetik
Lari yang dulu dianggap sebagai olahraga untuk semua kalangan, sekarang beralih menjadi ajang pamer outfit yang berjalan. Inget banget lari sore hari, ketemu dengan pelari yang menggunakan perlengkapan sangat “profesional”:
- Ada topi dan kacamata hitam.
- Kaos lari dari bahan khusus.
- Hingga sepatu carbon plate dengan harga yang selangit.
Lucunya, mereka lebih sering berhenti untuk berfoto dengan pose yang estetik daripada memperhatikan ritme lari mereka. Bahkan, saya pernah menjadi pusat perhatian hanya karena lari dengan gamis. Waktu saya lari pakai gamis, itu rasanya campur aduk. Ada yang ngeliatin dari ujung kepala sampai ujung kaki, ada juga yang liatnya sinis, sampai ada yang beneran liat hingga menghilang dari pandangan, beuhh bener-bener ni orang. Mungkin mereka mikir “ni orang mau ke pengajian atau mau lari?”. Tapi ya bodo amat la ya, yang penting mah saya enjoy.
Pergeseran Makna dan “Skena Lari”
Di sinilah sebenernya terungkap betapa kuatnya norma sosial yang ada. Seseorang seringkali dianggap tidak serius berolahraga jika tidak mengenakan “seragam” sesuai yang ditentukan oleh media. Sebenarnya, inti dari olahraga adalah gerakan fisik, bukan keseragaman pakaian.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa inklusi dalam olahraga semakin terancam oleh standarisasi gaya hidup yang dibentuk oleh propaganda media. Lari yang seharusnya sebagai olahraga termurah dan simple, bisa dilakukan siapa saja malah menjadi ajang adu outfit yang bikin minder bagi pelari yang tak lengkap. Orang-orang sekarang nyebutnya “Skena Lari”.
BACA JUGA: Konten Kreator sebagai Penggerak Ekonomi Keluarga di Era Digital
Lucunya identitas pelari nggak dilihat dari seberapa jauh kakinya melangkah atau seberapa bugar badannya, tapi lebih ke seberapa lengkap dan mahal outfitnya. Yang tadinya lari murah meriah sekarang malah jadi bikin kantong jebol. Ini mah jelas salah, patut dibenerin nih mindsetnya. Jangan bikin lari untuk ajang estetik buat jepretan kamera, tapi jadikan lari sebagai awal hidup sehat.
Analisis Komunikasi Massa: Konstruksi Sosial
Dari sudut pandang Komunikasi Massa, fenomena ini sebenernya bisa banget dianalisis menggunakan Teori Konstruksi Sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann.
Singkatnya, teori ini bilang kalau realitas “keren” atau “standar” di masyarakat itu terjalin lewat interaksi sosial dan diperkuat oleh media secara berkala. Instagram dan Strava udah sukses banget ngebentuk pemahaman di kepala kita, kalau mau dibilang pelari yang “nge-lari banget” ya kudu punya identitas visual yang spesifik.
- Apa yang kita pakai bukan lagi sekedar pelindung badan, tapi pesan nonverbal tentang status dan selera.
- Influencer lewat SG (Story Instagram) pamer sepatu terbaru dan narasi bahwa olahraga yang bener harus didukung perlengkapan mahal.
Hal yang gini ni, yang buat hambatan psikologis. Banyak yang sebenernya pengen mulai lari tapi malah nggak percaya diri atau merasa belum “layak” buat masuk ke lintasan lari kalo belum punya outfit yang komplit. Ironis banget yak liatnya, cape liat orang kudu mikirin kaos kaki sama baju balance ga, cocok ga sama sepatunya. Daripada mikir gini, ada baiknya kita mikirin cara biar paru-paru nggak copot pas masuk dua kilometer.
Kembali ke Esensi: Jantung Ga Butuh Gengsi
Lari harusnya jadi tempat yang nyaman untuk diri sendiri, untuk berinteraksi dengan tubuh, bukan cuma sekadar arena unjuk diri di depan dunia digital. Sebenernya, gapapa kalo mau beli perlengkapan olahraga mahal kalau memang ada uangnya. Kenyamanan dan perlindungan dari risiko cedera itu menjadi investasi berharganya.
Nahh, yang jadi masalahnya itu kalau fokus utamanya geser ke penampilan visual doang. Jangan sampai niat yang tadinya mau sehat, malah kalah sama beban gengsi yang gada habisnya. Media sosial itu cuma sarana, jangan biarin dia yang nentuin langkah kita.
Toh nanti jantung ga peduli sama merk sepatu atau seberapa mahal kacamata yang nempel pas olahraga. Dia mah cuma peduli seberapa rutin dan konsisten tuannya ngajak gerak, bisa hidup lebih baik.
“Jantung kita ga butuh gengsi, dia cuma butuh kamu lari.”







Tinggalkan Balasan