Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Refleksi Indeks Paras Kumulatif (IPK) di Akun Sosmed “Universitas Cantik”

Avatar Dafid Ibrahim

satir tentang pergeseran nilai di kampus, di mana ‘Indeks Prestasi Kumulatif’ (IPK) telah diganti menjadi ‘Indeks Paras Kumulatif. (Sumber Foto: Pribadi)

Mari kita mulai dengan pengakuan dosa. Sebagai lelaki normal (dan mahasiswa yang butuh hiburan), saya adalah salah satu dari ribuan pengikut akun-akun “Universitas Cantik” itu. Saya scrolling, saya double-tap, saya menikmati. Tentu saja, secara subjektif, ini normal. Segar di mata setelah melihat tampilan word berjam-jam, “katanya”.

Tapi, setelah sesi scrolling ke-500, ada keresahan janggal yang muncul di otak saya yang sudah terlalu banyak terpapar feed estetik. Keresahan ini mulai beranak-pinak menjadi pertanyaan-pertanyaan di sudut-sudut kampus. Dulu, pertanyaan paling bergengsi adalah, “IPK semester ini berapa?” atau “Sudah sampai bab berapa skripsimu?”. Kini, saya khawatir, pertanyaan itu berevolusi menjadi “Eh, foto OOTD-mu sudah di-upload di @UnivCantik belum?”

Transformasi Akademik: Dari Prestasi ke Paras

Inilah yang saya sebut sebagai pergeseran sistemik di dunia pendidikan tinggi. Kita sedang menyaksikan evolusi besar-besaran, dari “Indeks Prestasi Kumulatif” yang butuh begadang baca jurnal, adu argumen di kelas, dan Americano dosis tinggi menjadi “Indeks Paras Kumulatif” yang butuh golden hour, angle foto presisi, dan outfit yang harganya mungkin setara pecah telur KIP satu semester.

Dan mari kita jujur, “Indeks Paras Kumulatif” ini tampaknya punya target demografis yang sangat spesifik. Akun ‘Universitas Ganteng’ mungkin ada, tapi pengikutnya tidak akan pernah seramai antrean promo skincare. Ini adalah fenomena yang, entah bagaimana, lebih sering memberkati para mahasiswi.

Orang-orang sinis di luar sana mungkin akan buru-buru berteriak ini “seksisme terselubung“. Tapi kita, para penikmat, lebih suka menyebutnya… “kurasi berbasis apresiasi”. Ya, itu terdengar jauh lebih akademis. Ini bukan objektivikasi, ini platforming untuk talenta-talenta visual yang anjay.

Fungsinya apa sebenarnya? Promosi kampus? Tentu. Ini promosi yang sangat efektif untuk memberi tahu dunia bahwa kampus kita tidak hanya unggul di riset SINTA, tapi juga unggul di skincare dan mix and match fashion. Kita tidak lagi hanya mengekspor lulusan siap kerja, kita mengekspor influencer siap endorse. Pertanyaan saya “Serius dijadikan promotor?”

Misteri Ruang Kurasi Admin

Ini membawa kita ke pertanyaan berikutnya. Bagaimana sebenarnya proses kurasi foto-foto itu? Apa benar harus cantik?

Saya sering membayangkan admin akun ini bekerja seperti editor jurnal ilmiah Scopus. Mereka pasti punya rubric penilaian yang ketat di ruang rahasia mereka.

“Baik, kita evaluasi kiriman hari ini,” kata sang Admin Ketua.

Sebuah kiriman foto di perpustakaan mungkin akan langsung dinilai minus. Kenapa? Fotonya terlalu serius, lighting-nya suram, dan kesalahan fatal subjeknya kurang menawan. Tentu saja REJECT.

Berbeda nasibnya dengan kiriman foto di coffee shop terbaru. Foto ini memenuhi semua kriteria fisik yang didambakan, angle presisi, OOTD on point, dan yang terpenting, senyum candid manis yang menawan. Approve! Segera terbitkan!

Lalu, bagaimana nasib mereka yang (maaf) tidak memiliki keberanian untuk mengatakan dirinya sendiri cantik? Atau yang fotonya fokus meneliti di laboratorium, bukan di depan cermin toilet mall untuk Mirror Selfie ?

Apakah mereka akan selamanya mendekam di folder ‘Pending’? Atau, lebih buruk lagi, langsung masuk ‘Recycle Bin’ per-estetika-an?

Bagian Hiperbolik: ‘Good Looking’ Sebagai Syarat Yudisium

Nah, ini bagian yang paling saya takuti, tapi sekaligus paling saya tunggu-tunggu. Ketakutan saya adalah, Bagaimana jika syarat wajib yudisium itu good looking?

Kalian mungkin bilang saya terlalu berlebihan. Tentu saja saya berlebihan! Tapi di situlah letak masalahnya. Karena fakta ini sudah tidak bisa ditutupi lagi, yang ada hanya bisa dilebih-lebihkan. Maka dengan ini, saya justru mengusulkan.

BACA JUGA: Panduan Pahit yang Tak Diajarkan di Materi Ospek Maba

Mari kita resmikan saja “Indeks Paras Kumulatif” ini. Jadikan syarat kelulusan. Kita bisa mulai dengan membuat beberapa mata kuliah wajib baru. Bayangkan, mahasiswa baru akan mengambil mata kuliah fundamental seperti Poseologi OOTD Lanjut, tentu dengan bobot 3 SKE, alias Satuan Kredit Estetika. Semester berikutnya, mereka bisa mengambil Manajemen Filter dan Pencahayaan 2 SKE, dan ditutup dengan kelas Filsafat Caption Puitis di Bawah Foto Selfie 1 SKE, agar lulusan kita tidak hanya cantik difoto, tapi juga puitis di caption.

Ujian Akhir Semester-nya? Photoshoot di taman rektorat. Dosen pengujinya Admin @UnivCantik itu sendiri. Yang gagal lolos kurasi, wajib mengulang semester depan. Bayangkan betapa indahnya dunia di mana wisudawan terbaik bukanlah yang lulus 3,5 tahun dengan IPK 4.0, tapi yang fotonya di-repost akun kampus dengan likes 40.000.

Penutup (Sambil Istighfar)

Mungkin setelah tulisan ini terbit, banyak yang protes. Atau mungkin, banyak yang diam-diam setuju tapi berat menyadarkan ego (apalagi ego yang sudah terlanjur estetik dan banyak followers).

Sebagai penikmat yang sedang merefleksi, saya hanya ingin bertanya, Saat kita tua nanti, apa yang lebih membanggakan untuk diceritakan ke anak cucu?

“Dulu, Bapakmu dan Ibumu memenangkan debat nasional,” atau “Dulu, foto Bapakmu dan Ibumu trending di akun ‘Universitas yang itu ‘?” Ah, sudahlah. Saya mau lanjut scrolling lagi. Siapa tahu foto saya yang sedang mancing ini akhirnya di-upload juga.

Avatar Dafid Ibrahim

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter