Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Merawat Ingatan Lewat Sinema: Ekranisasi Bumi Manusia

Avatar Desti Sagita

Bumi Manusia versi film mampu memperkenalkan kembali karya besar Pramoedya Ananta Toer kepada generasi muda (Sumber Foto: Leo Abimanyan)

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (1980) tidak hanya mengisahkan percintaan antara Minke dan Annelies, tetapi juga merefleksikan kebangkitan kesadaran bangsa, perjuangan melawan kolonialisme, serta pencarian identitas diri di masa penjajahan. Karya monumental ini menggambarkan bagaimana rakyat Indonesia perlahan memahami arti kemerdekaan, pengetahuan, dan harga diri di tengah sistem kolonial yang menindas.

Empat dekade setelah terbit, kisah tersebut kembali hidup melalui film garapan Hanung Bramantyo pada tahun 2019. Adaptasi ini sontak memicu perdebatan di kalangan publik dan kritikus film, terutama tentang sejauh mana film mampu mempertahankan kedalaman makna dari novel setebal 525 halaman itu.

Film Bumi Manusia dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar Eva de Jongh sebagai Annelies, dan Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh. Bentuk ekranisasi dari novel ini tidak hanya bertujuan menghadirkan hiburan, tetapi juga berusaha menjembatani karya sastra klasik dengan budaya populer masa kini.

Adaptasi tersebut membawa tantangan besar, karena mengubah bahasa teks menjadi bahasa visual berarti juga mengubah ritme, simbol, dan cara penonton memahami pesan. Dalam prosesnya, terjadi pergeseran antara kesetiaan terhadap teks dan tuntutan artistik sinema. Namun, ekranisasi memiliki sisi positif dan negatif dalam menyampaikan isi ceritanya.

Sisi Positif: Ekranisasi Menjadi Media Penghubung Antargenerasi

Bumi Manusia versi film mampu memperkenalkan kembali karya besar Pramoedya Ananta Toer kepada generasi muda. Di tengah menurunnya minat baca, film ini menjadi jembatan efektif bagi mereka yang lebih akrab dengan media audio-visual. Data dari situs film Indonesia mencatat bahwa film ini berhasil menarik lebih dari 1,3 juta penonton selama masa penayangannya pada 2019.

Kehadiran film di platform digital seperti Netflix sejak April 2020 juga memperluas jangkauannya hingga ke audiens internasional. Dengan visual yang memikat dan sejarah yang kuat, film ini menghidupkan kembali semangat perjuangan yang terkandung dalam novel.

Bagi sebagian penonton muda, film ini menjadi pintu masuk untuk mengenal karya-karya lain dari Pramoedya Ananta Toer dan memahami konteks sejarah Indonesia pada masa penjajahan. Adaptasi ini membuktikan bahwa karya sastra dapat tetap relevan ketika mampu menyesuaikan diri dengan selera zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Lebih jauh, film ini juga membuka ruang diskusi baru tentang sejarah dan identitas bangsa, serta menumbuhkan kembali rasa ingin tahu terhadap perjalanan panjang Indonesia menuju kemerdekaan. Dalam hal ini, Bumi Manusia versi film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium edukatif dan reflektif bagi generasi kini.

Sisi Negatif: Cerita Tidak Dapat Direkam Secara Utuh Seperti Novelnya

Namun, proses ekranisasi juga membawa konsekuensi berupa penyederhanaan makna dan pengurangan kedalaman cerita. Novel Bumi Manusia menghadirkan kompleksitas yang luar biasa, terutama dalam menggambarkan dunia batin Minke dan perjuangan intelektualnya melawan struktur kolonial.

BACA JUGA: The Sore Effect: Membedah Sisi Psikologis Film Sore

Setiap bab penuh dengan renungan, perdebatan, dan narasi sosial yang menggugah. Ketika dialihkan ke medium film dengan durasi 181 menit, banyak bagian penting dari perjalanan batin tokoh-tokohnya yang harus dipadatkan atau bahkan dihilangkan.

Berdasarkan ulasan Tirto.id (2019), beberapa peristiwa penting seperti konflik Minke dalam dunia pers serta pergulatannya memahami sistem kolonial terpangkas demi kebutuhan narasi sinematik. Fokus cerita kemudian bergeser pada hubungan romantis antara Minke dan Annelies, sehingga tema besar tentang kesadaran nasional dan perjuangan intelektual menjadi kurang menonjol.

Kritikus film Hikmat Darmawan dalam laporan Kompas (2019) menyebut bahwa film ini kuat sebagaimana ditekankan Pramoedya dalam novelnya. Adegan reflektif yang menggambarkan keresahan batin Minke banyak disederhanakan, mengurangi daya renung yang menjadi ciri khas karya aslinya.

Laman: 1 2

Avatar Desti Sagita

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter