Dari Kekunoan Hingga Kekinian

Dari Meja Makan ke Budaya Massa: Transformasi Kuliner di Era Media Sosial

Avatar Maghda Fairuzzahra

Antusiasme Food Vlogger saat mengulas kuliner lokal yang autentik (foto: pribadi)

Maraknya fenomena vlog kuliner telah menjadi bagian dari budaya populer yang berkembang pesat di era digital, didukung oleh platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Aktivitas sederhana seperti makan kini berubah menjadi tontonan yang menghibur sekaligus informatif. Dalam konteks sastra populer, vlog kuliner dapat dipandang sebagai teks modern yang menyajikan narasi ringan dan komunikatif, mencerminkan gaya hidup masyarakat urban serta hubungan emosional antara vlogger dan penontonnya.

Vlog kuliner umumnya berdurasi 10โ€“30 menit dan dibangun melalui tiga struktur utama: pembukaan (pengantar tempat atau menu), bagian tengah (pengalaman mencicipi dan interaksi), serta penutup (kesan akhir dan rekomendasi). Bahasa yang digunakan cenderung santai dan ekspresif, menciptakan kedekatan emosional dengan penonton. Unsur naratif inilah yang menjadikan vlog kuliner sejalan dengan karakter sastra populer yang mudah diterima masyarakat.

Popularitas konten review dan vlog makanan di media sosial dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling berinteraksi. Salah satu faktor utamanya adalah peran influencer atau food vlogger yang memiliki jumlah pengikut besar serta tingkat kredibilitas tinggi. Para kreator ini umumnya mampu membuat konten kreatif melalui visual makanan yang estetik dan menggugah selera, disertai gaya penyampaian yang menarik serta ulasan yang dianggap jujur dan autentik. Kombinasi tersebut membangun kedekatan emosional dengan penonton sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap rekomendasi yang diberikan.

Gaya penyampaian yang unik dan autentik juga menjadi daya tarik utama. Tokoh-tokoh seperti Nex Carlos, Tanboy Kun, dan Ria SW menunjukkan variasi gaya penceritaan: jenaka, ekstrem, hingga berbalut budaya lokal. Nex Carlos dikenal dengan gaya ramah dan ekspresif saat mengunjungi warung sederhana , Ria SW menonjol lewat eksplorasi kuliner lintas daerah serta storytelling yang menampilkan perjuangan UMKM, sedangkan Tanboy Kun menghadirkan hiburan lewat konsep makan ekstrem. Variasi gaya inilah yang membuat vlog kuliner semakin menarik bagi berbagai kalangan, dari remaja hingga dewasa.

BACA JUGA: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bersama Gratis? Sebuah Evaluasi Program di Tengah Kritik Siswa

Selain faktor individu, kebutuhan masyarakat akan rekomendasi kuliner yang terpercaya dan praktis juga turut mendorong popularitas vlog makanan. Banyak penonton menjadikan konten tersebut sebagai referensi sebelum membeli makanan atau mencoba tempat baru. Interaksi antara penonton dan influencer melalui kolom komentar, like, dan share juga memperluas jangkauan konten serta membentuk komunitas kuliner digital yang aktif berbagi pengalaman. Penggunaan tagar populer seperti #foodvlog dan #kulinerIndonesia semakin memperkuat eksposur konten tersebut.

Secara keseluruhan, popularitas vlog kuliner adalah hasil kombinasi kreativitas vlogger, kekuatan media sosial, dan antusiasme masyarakat terhadap dunia kuliner. Kini, vlog makanan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana pemberdayaan UMKM dan promosi budaya kuliner Indonesia di era digital. Kehadirannya membawa banyak manfaat, terutama bagi pelaku usaha kecil yang terbantu lewat promosi gratis. Vlogger seperti Nex Carlos dan Ria SW berhasil menjadikan makanan lokal sebagai cerita yang hangat dan penuh makna melalui narasi sederhana , sekaligus mengajarkan penonton mengenai asal-usul serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap hidangan.

Namun, fenomena ini juga memiliki sisi negatif. Konten berbayar di media membuat objektivitas ulasan para vlogger semakin dipertanyakan. Masalah etika pun muncul ketika ulasan negatif diberikan tanpa memperhatikan dampaknya bagi UMKM , seperti kasus Codeblu yang gaya kritiknya yang tajam berpotensi merugikan usaha kecil. Oleh karena itu, seorang vlogger dituntut memiliki tanggung jawab moral untuk menyajikan ulasan secara jujur, proporsional, dan membangun agar tidak merugikan pihak yang diulas.

Melihat perkembangannya, vlog makanan sepertinya akan terus ada. Tren baru seperti video singkat, siaran langsung, dan keterlibatan langsung dengan audiens mulai bermunculan. Namun satu hal yang pasti di masa depan: vlogger yang mampu mempertahankan kejujuran, kepedulian, dan nilai-nilai budaya akan tetap bertahan, sementara mereka yang hanya mencari sensasi lambat laun akan tergerus oleh dinamika algoritma yang cepat berubah. Dengan menjaga integritas ini, vlog kuliner dapat menjadi media apresiasi budaya makan sekaligus sarana yang memperkuat ekonomi lokal dan memperkaya dinamika sastra populer modern.

Avatar Maghda Fairuzzahra

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *





Subscribe to our newsletter